Apakah Anda pernah merasakan sakit di bagian gusi paling belakang? Rasa
sakit disertai dengan gusi bengkak dan berwarna kemerahan. Bisa jadi rasa sakit
itu disebabkan oleh impaksi gigi graham bungsu (wisdon teeth).
Singkatnya dapat dikatakan bahwa gigi geraham paling belakang dalam proses
untuk tumbuh tetapi permasalahannya, ia tidak mendapat ruang yang cukup untuk
tumbuh sehingga gigi tersebut tumbuh miring dan menabrak gigi di
depannya hingga menyebabkan gigi di depannya terdorong dan menyebabkan berbagai
masalah baru. Bagaimana rasanya? Tentu sakit. Tetapi impaksi gigi yang saya
alami agak berbeda. Gusi bagian belakang mengeluarkan cairan berbau busuk yang
mungkin saja itu cairan nanah dan anehnya saya tidak merasa sakit sama sekali.
Saya khawatir terjadi infeksi, saya berpikir bisa saja bakteri masuk
ke dalam lalu tubuh saya melawan bakteri tersebut dengan cara mengeluarkan sel
darah putih dan jika sel darah putih telah memakan bakteri atau kuman itu lalu
ia berubah menjadi nanah. Saya takut jika bakteri atau kuman tersebut bisa
masuk ke dalam peredaran darah lalu menyebabkan penyakit jantung. Seram sekali
bukan?

Catatan: foto rontgen gigi saya
hilang jadi saya menggunakan gambar dari internet yang mirip dengan keadaan
gigi saya waktu itu.
Saya akan menceritakan
permasalahan yang saya alami secara lebih detail. Awalnya, kira-kira bulan
Agustus 2017 saat lagi libur kuliah saya merasa setiap kali saya makan, ada
rasa dan bau busuk di mulut bagian kiri bawah paling belakang, spekulasi
pertama, saya mengira ada gigi yang bolong sehingga mengeluarkan bau busuk,
tetapi setelah saya periksa di depan cermin dengan menggunakan senter ternyata
tidak ada gigi yang berlubang. Lalu saya bingung dan bertanya-tanya, dari mana
asal bau busuk ini berasal? Saya mencoba untuk memasukkan jari ke gusi kiri
bawah paling belakang dan ternyata saat saya teken, gusi tersebut seperti
meneluarkan cairan berbau busuk. Tetapi kesalahan saya adalah saya berpikir
bahwa hal ini tidak perlu untuk dikhawatirkan dan akan sembuh dengan
sendirinya, tetapi ternyata saya salah, sebulan, dua bulan, tiga bulan, hingga
lima bulan berlalu gusi tersebut masih saja mengeluarkan cairan busuk.
Kemudian saya memutuskan untuk
pergi ke klinik gigi, saya menceritakan kepada dokter apa yang terjadi
dengan gusi saya dan dia terlihat agak kaget saat saya berkata bahwa
sudah lima bulan gusi saya mengeluarkan nanah. Kemudian dokter
menyarankan saya untuk rontgen full semua gigi. Lalu saya rontgen di RS
FKG UI Salemba dengan biaya Rp60.000,00, rontgen di sini termasuk murah.
Setelah rontgen saya balik ke klinik gigi dan dokternya berkata bahwa gigi
graham bungsu saya tumbuh di dalam karena tidak ada ruang yang cukup sehingga
gigi tersebut tumbuh miring ke depan dan menabrak dan mendorong gigi di
depannya. Hal ini dikenal dengan nama impaksi gigi graham bungsu. Setelah itu
dokter menyarankan supaya saya mengoperasi gigi graham bungsu tersebut.
Kemudian saya bertanya kepada dokter berapa biaya untuk operasi gigi itu dan
dokter berkata kisaran 3 juta untuk dokter gigi umum dan 8 juta untuk dokter
gigi spesialis. Saya terkejut dengan biaya yang cukup mahal tersebut. Saya
masih mahasiswi, periksa gigi itu saja gratis di klinik kampus. Jadi saya
mencari alternatif bagaimana agar bisa operasi tanpa mengeluarkan banyak biaya.
Berhubung biaya yang mahal, saya
memutuskan untuk periksa di puskesmas karena gratis. Saat hari pertama periksa,
dokter berkata “Itu gigi kamu numbuh. Jadi hal seperti itu memang biasa
terjadi.” Lalu saya diberi obat penghilang rasa sakit padahal saya tidak
merasakan sakit sama sekali. Lalu saya berkata “Dok, saya sebelumnya sudah
pernah periksa di klinik dan dokternya bilang harus di operasi”. Kemudian dokter
puskesmas itu berkata “Disini saya yang kasih keputusan bukan kamu”. Lalu
akhirnya dengan sedikit argumen, dokter akhirnya berkata “Kamu satu minggu lagi
kembali ke sini, baru saya kasih surat rujukan ke rumah sakit untuk dilakukan
operasi kecil”. Setelah satu minggu, saya kembali ke puskesmas dan dokter
memberikan surat rujukan ke rumah sakit, dia bertanya di rumah sakit mana saya
ingin dirujuk dan saya memilih rumah sakit yang paling dekat dengan rumah saya
di Jakarta perbatasan selatan dan barat. Dokter itu mengingatkan jika surat
rujukan itu berlaku sampai tigapuluh hari, jadi jika lewat dari itu maka surat
itu tidak bisa digunakan lagi.
Setelah mendapat surat rujukan,
saya langsung ke rumah sakit lalu dokter memeriksa rontgen gigi saya baru
kemudian suster mengatur jadwal untuk dilakukan operasi, berhubung saya memakai
BPJS sehingga biaya operasi dan obatnya gratis, tetapi kelemahannya adalah
harus mengantri untuk waktu operasi dikarenakan banyaknya pasien. Waktu itu
saya menunggu sekitar satu bulanan untuk operasi. Setelah diberi jadwal
operasi, saya menebus obat, hal ini agak aneh karena operasi belum dilaksanakan
tetapi sudah harus menebus obat. Sehari sebelum operasi harus meminum obat dan
saat hari dimana operasi berlangsung, obatnya tidak boleh diminum dulu tetapi
harus dibawa.
Hari dimana saya melalukan
operasi tiba, seluruh muka saya ditutup dengan kain berwarna hijau, kecuali
bagian mulut, kain ini memastikan agar pasien tidak melihat proses operasi
supaya psikologisnya lebih tenang. Lalu dokter menyuntikan gusi saya dengan
obat kebal sebanyak tiga kali, disitu saya tidak merasa sakit, setelah agak
kebal saya tidak tau apa lagi yang dokter lakukan, hanya menebak saja tetapi
saya merasa bahwa gusi saya mulai dibelek, beberapa saat kemudian terdengar
suara mesin bor yang dimasukin ke mulut saya, sepertinya itu alat untuk motong
gigi graham menjadi beberapa bagian supaya mudah untuk di ambil, di menit-menit
awal, mulai dari disuntik sampai dibelek saya tidak merasa sakit, tetapi lama
kelamaan suara yang dihasilkan mesin pemotong gigi terasa amat berisik sampai
ke otak, sontak saya refleks bergerak dan berkata “Au!” (jangan ditiru hehe).
Proses operasi memakan waktu tidak sampai 1 jam, akhirnyaaaa operasi selesai
dilakukan dan dokter memberi kain kasa di atas bekas luka operasi, lalu saya
menahan kain kasanya dengan cara terus menggigitnya sampai 1 jam, agar darah
tidak terus mengalir keluar.
Pasca operasi pipi saya
membengkak dan mulut terasa kebal, bahkan saya terus mengeluarkan air liur dan
saya tidak dapat menahannya agar tidak keluar. Setelah mendapat sebuah catatan
kecil berisi hal-ha yang boleh dan tidak boleh saya lakukan. Diantaranya
seperti kain kasa di gigit selama satu jam pasca operasi, setelah dua jam boleh
makan di sisi sebelahnya, tidak boleh makan makanan panas, dan tidak boleh
kumur-kumur selama 24 jam. Setelah operasi dan dalam proses penyembuhan
saya tidak merasa sakit sama sekali. Namun di siang dan malam hari setelah
operasi gusi terus mengeluarkan darah yang cukup banyak. Saya dapat berbicara
dan membuka mulut tetapi tidak bisa selebar biasanya dan di hari itu saya hanya
memakan ager. Di hari kedua saya memakan bubur, lalu hari ketiga pembengkakan
di mulut berkurang dan saya sudah bisa makan sayur bening berisi jagung dan
bayam dicampur dengan lauk ikan goreng. Dan senangnya lagi saya juga sudah bisa
tertawa lebar. Di hari pertama dan kedua saya tidak berani menggosok gigi. Akhirnya
setelah satu minggu saya kembali ke rumah sakit untuk dilakukan pengecekan
sekaligus cabut benang jahitannya. Setelah itu saya sudah benar-benar sembuh
dan normal kembali. J
Itulah pengalaman saya saat
mengalami impaksi gigi graham bungsu dan bagaimana proses saya mulai awal
keluhan hingga proses operasi hingga penyembuhan. Semoga cerita ini memberi
manfaat bagi pembaca dan saya harap jika pembaca mengalami sakit seperti yang
pernah saya alami, segera periksa ke dokter gigi karena gigi juga merupakan
bagian tubuh yang tidak kalah penting dari bagian tubuh lain, seringkali orang
yang sakit gigi tidak memeriksakannya dan justru mengabaikannya. Memeriksa
lebih cepat lebih baik supaya tidak terjadi banyak masalah dikemudian hari.
Komentar
Posting Komentar